.

.
.

Monday, 5 June 2017

Ketika Zumi Zola Membersihkan "Musuh Dalam Selimut" Lingkup Pemprov Jambi


Gubernur Jambi H Zumi Zola (kiri) Ridham Priskab (kanan). Foto Asenk Lee Saragih.
Oleh: Asenk Lee Saragih
BERITAKU-Gubernur Jambi H Zumi Zola kini bersih-bersih rumah pemerintahannya dari orang-orang yang tidak cakep dalam bekerja. Bahkan yang dianggap "musuh dalam selimut" kini mulai disapu untuk membersihkan rumah pemerintahan agar berjalan tanpa campur tangan pihak luar.

Sepakterjang Zumi Zola untuk merombak seluruh pembantunya memang kali pertama dalam sejarah pemerintahan di Provinsi Jambi. Bayangkan saja, ratusan pejabat eselon II dan III dinonjobkan secara serentak. 

Tak hanya disitu, sekitar 30-an pejabat eselon II dicopot. Paling nekat lagi, Sekda Provinsi Jambi Ridham Priskab juga harus "ditendang" dari kursi sekda. Padahal Ridham Priskab merupakan pejabat yang paling dibutuhkan dalam pemerintahan Prov Jambi.

Lalu banyak pihak bertanya-tanya, dan berandai menjawab kenapa Zola melakukan itu dalam waktu yang serentak. Tentunya ini merupakan hak Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi Periode 2016-2021.

Sebagian beranggapan bahwa Zola ingin menjalankan roda pemerintahan tanpa tekanan siapapun. Bahkan intervensi dari Ayahnya H Zulkifli Nurdin dalam menentukan pejabat dilingkungannya tak membuat Zola bergeming.

Zola tetap pada pendiriannya, kalau dia adalah Kepala Daerah Pemerintahan Provinsi Jambi dan milik seluruh Rakyat Provinsi Jambi. Zola ingin menjalankan pemerintahan tanpa ikut campur pihak luar yang notabene bermerak "Tim Sukses" itu.

Zola juga tak mau terikat dengan satu kelompok atau golongan tertentu yang bisa menjerembabkannya ke "jurang" pemerintahan, sehingga kepemimpinannya dianggap masyarakat gagal. Dengan sikap membersihkan "musuh dalam selimut" itu adalah langkah tepat bagi Zumi Zola untuk pencapain Visi-Misi Jambi Tuntas 2021.

Namun membaca tulisan http://www.jambi-independent.co.id yang menuliskan secaga gamblang kalau Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli kini dikabarkan dalam tekanan berat. Sejumlah orang dekat dan orang kepercayaan alias ring satu Zumi Zola “terlempar”, internal pendukungnya pecah. 

Berikut tulisan lengkapnya dikutip dari www.jambi-independent.co.id. (Sumber)

Ditenggarai kondisi ini bisa mempengaruhi kinerja Zola pribadi maupun Pemprov Jambi secara keseluruhan. Informasi yang dirangkum Jambi Independent sepekan ini, entah kenapa, Zumi Zola memecat beberapa “punggawa”-nya. 

Terbaru, ia memecat Erwin, Plt Karo Umum yang notabene tangan kanannya. Selama ini, Erwin diketahui sosok pejabat yang sangat dipercaya Zola. Makanya, Erwin ditunjuk sebagai Plt Karo Umum, yang tugasnya mengatur keuangan dan “dapur” Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Tentunya, pemecatan Erwin sangat mengejutkan. 

Lalu, Zumi Zola memecat dua ajudan pribadi yang sehari-hari mendampinginya. Dua ajudan yang diputus kontrak yakni, Alfen dan Alfin Oktaviansyah. Keduanya PNS Pemprov. Padahal, mereka berdua ditugaskan untuk menjadi ajudan pribadi gubernur pasca Zola dilantik beberapa waktu lalu. 

Selain ajudan, Zola juga dikabarkan memberhentikan sejumlah honorer yang bekerja di rumah dinas (rumdis) Gubernur Jambi. Ini mengejutkan lingkungan Pemprov Jambi. Gubernur Jambi Zumi Zola membenarkan sudah memberhentikan dua ajudannya. Namun sayang, Zola enggan berkomentar panjang. “Untuk penyegaran saja,” singkatnya, kemarin (4/6). 

Zola juga terkesan mengelak saat ditanya soal sejumlah pejabat yang dipecat. Padahal, mereka baru saja dilantik. “Pergantian dilakukan berdasarkan penilaian dan pertimbangan tim Baperjakat. Untuk teknis penilaiannya, bisa ditanyakan langsung ke Pak Sekda selaku ketua tim Baperjakat,” katanya. 

Untuk diketahui, pasca mencopot Plt Karo Umum Erwin sepekan lalu, Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli kembali mencopot tiga pejabat. Tiga orang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala OPD terhitung awal Juni ini diberhentikan dari jabatan Plt. 

Beredar kabar, Zola mengganti Plt Kepala OPD tersebut karena masih ada kaitannya dengan pemberhentian Erwin sebagai Plt Kabiro Umum beberapa waktu lalu. Namun, baik Zola maupun Pejabat (Pj) Sekda Provinsi Jambi memberikan jawaban yang sama seperti saat pemberhentian Erwin beberapa waktu lalu. 

Untuk diketahui, Plt Kadis yang dicopot tersebut, yakni, Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Yahya Buwaiti, posisinya digantikan Husni Jamal yang saat ini menjabat sebagai Staf Ahli. 

Kemudian Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Atma Jaya, diganti oleh Irzan yang saat ini menjabat Kabid Peranan Wanita dan Lansia. 

Terakhir Plt Dinas Perhubungan Ahmad Ali, yang digantikan Darma yang kini menjabat Kabid Pengembangan Transportasi. Pejabat (Pj) Sekda Provinsi Jambi, Erwan Malik, membenarkan bahwa tiga Plt Kepala OPD diberhentikan. “Ada tiga pejabat yang kembali diganti, posisinya sebagai Plt Kepala Dinas,” katanya. 

 Menurut Erwan, alasan Gubernur Jambi kembali melakukan rotasi adalah, agar yang bersangkutan fokus dengan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) sebagai Kabid pada jabatan yang dia jabat saat ini. “Berdasar hasil evaluasi, ketiganya diberhentikan dari jabatan Plt. Agar mereka lebih fokus kepada tupoksi mereka di jabatan sebelumnya yaitu sebagai kabid,” kata Erwan. 

 Sementara, untuk ajudan yang dipecat, langsung dipindahtugaskan ke Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Provinsi Jambi. Sedang sebagian besar tenaga honorer di Rumah Dinas Gubernur Jambi yang diberhentikan, kini nasibnya tidak jelas. 

Erwan mengaku untuk ajudan memang ada dua orang yang diganti. Namun ia tidak hapal siapa kedua ajudan yang diganti tersebut. Dia hanya mengatakan pergantian ajudan tersebut bertujuan untuk penyegaran saja. Sementara untuk pemberhentian tenaga honor di rumah dinas, Erwan membantahnya. 

“Kalau tenaga honor di Rumah Dinas tidak,” katanya. Kini, ajudan yang dipercaya mendampingi Zola adalah Puja dan Andri. Puja sebelumnya pernah menjadi ajudan Wakil Gubernur Fachrori Umar. 

Dikonfirmasi terpisah, Saipudin, Asisten III Setda Provinsi Jambi, mengatakan belum mendengar kabar adanya pemberhentian tenaga honorer di rumah dinas. 

“Kami memang sedang melakukan seleksi kembali untuk tenaga non PNS. Namun, untuk pemberhentian belum ada laporan ke saya,” katanya. 

 Informasi A1 yang didapat Jambi Independent, Zumi Zola, Gubernur Jambi pilihan masyarakat, kini dalam tekanan kekuatan besar. Ia bahkan tak bisa melawan kehendak kekuatan itu ketika diminta mengganti semua orang kepercayaannya. “Zola seperti tak bisa berkutik. Kejadiannya seminggu lalu,” ungkap sumber JI yang mewanti-wanti namanya tak disebut di koran, beberapa malam lalu. 

Kompetisi Antar Timses 

Masih tulisan di www.jambi-independent.co.id. (Sumber), terpecahnya internal Gubernur Jambi Zumi Zola, dinilai bakal mempengaruhi banyak hal. Bahkan, dari pengamatan Jafar Ahmad, Peneliti Idea Institute, ada kompetisi antar patron atau tim sukses (timses) di belakang Zumi Zola dan Wakil Gubernur Fachrori Umar. 

“Jadi ketika distribusi posisi itu tidak proporsional, akan ada kompetisi. Dan ini akan mengarah ke saling menjatuhkan,” ujar Jafar, dihubungi semalam. Namun, menurut Jafar, situasi ini wajar. Karena memang dalam distribusi kekuasaan, akan banyak orang berharap pada suatu posisi. 

“Ketika patron A yang menang, maka patron B akan tersingkir. Jadi yang bertahan itu adalah simpul yang terkuat. Yakni, patron yang memiliki kekuasaan dalam memberikan sumbang saran dalam pengambilan keputusan Zumi Zola selaku gubernur,” sebutnya. 

Jafar menilai, situasi ini bisa saja menguntungkan bagi Zumi Zola. Ia jadi lebih mudah mengontrol dan mengatur roda pemerintahan. Karena, patron yang kuat tersebut, lebih dikenalinya dan lebih sedikit setelah “seleksi alam” terjadi. 

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ar Syahbandar, menganjurkan agar Gubernur Zumi Zola benar-benar menunjuk orang yang berkompeten dan mampu menterjemahkan program-program gubernur. “Saya mendengar itu (soal pecahnya internal Zola), namun itu bukan kewenangan saya untuk komentar. 

Namun dari sisi pengawasan, saya berharap gubernur benar-benar menunjuk orang yang layak. Apalagi ini sudah masuk tahun kedua gubernur memimpin. Dan sudah mau memasuki semester ke dua 2017,” ujar Syahbandar. 

Menurutnya, pergantian sejumlah pelaksana tugas (Plt) menandakan orang-orang yang diangkat itu tidak kompeten. Namun, jika pergantian Plt dilakukan hingga beberapa kali, ini malah mengganggu program pemerintah. 

“Hari ini hearing dengan si A, seminggu lagi hearing dengan yang lain lagi. Kalau bisa Plt yang ditunjuk itu tidak ganti-ganti lagi jelang definitif,” kata Syahabandar. 

Ia berharap pengisian sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan perangkat kerja lingkup Pemerintah Provinsi Jambi yang akan datang, merupakan orang-orang terbaik. ”Kalau bisa ini yang terakhir,” tegasnya. 

Nasri Umar, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jambi mengatakan, jika pejabat tidak bisa bekerja dengan baik, memang harus segera diganti. Evaluasi yang dilakukan selama tiga bulan ini sudah cukup untuk mengetahui bagaimana kinerja pejabat yang dipilih dan dilantiknya Maret 2017 lalu. 

“Bagaimana Jambi Tuntas bisa terwujud kalau pejabatnya tidak sesuai dengan kualifikasi,” katanya. Ditanyakan kenapa Gubernur bisa melantik jika kinerjanya tidak baik, apakah Gubernur kecolongan? Nasri Umar mengatakan, pelantikan pada bulan Maret lalu sebanyak 600 lebih pejabat. 

Tidak mungkin Gubernur bisa memeriksa satu persatu. Sehingga ketika sudah berjalan, baru bisa terlihat bagaimana kinerja pejabat yang telah dilantiknya. “Dalam pelaksanaan, mulai dia mengetahui siapa yang bisa bekerja dan yang tidak,” katanya.

Sebagai kata kunci dari saya, biarkanlah Zumi Zola untuk menentukan siapa pejabat pembantunya yang dinilainya memiliki integritas dan memiliki kemampuan. Kita lihat saja roda pemerintahan dua tahun ini, apakah Zola mampu menbawa Provinsi Jambi ini lebih baik, atau justru jadi kemunduran. 

Secara khusus kepada pembisik Zumi Zola agar tetap membisikkan informasi yang benar dan akurat. Jangan jadi pembisik Asal Bapak Senang (ABS). (*)

(Sumber: http://www.jambipos-online.com)

No comments: